Interaksi IMMawati di zaman Now
by: Melati Merah Marun
IMMawati Siti Aulia Rahma .
Pendahuluan
Immawati atau yang lebih tepat lagi sebagai identitas diri seorang kader perempuan yang berada dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Berbicara tentangnya berarti berbicara tentang perempuan yang selalu menarik untuk di kupas dan di ulas. Sebab dari penciptaanya saja sudah dikatakan istimewa.
Perempuan ketika zaman dahulu dimana agama Islam belum hadir di dunia tepatnya di Arab sana, mendapatkan posisi yang kurang baik di mata laki-laki, sebab bagi mereka wanita hanyalah semata-mata sebagai pemuas hawa napsu belaka dan tak tidak ada nilai tambah.
Dalam sejarah bangsa arab sebelum islam hadir yang sebagaimana di ceritakan dalam Al-Qur'an bahwa bagaimana perlakuannya terhadap wanita, dimana ketika dalam sebuah keluarga seorang ibu melahirkan anak perempuan maka akan di kubur secara hidup-hiduo tanpa rasa kasian padahal anak tersebut adalah anak keturunan biologis sendiri. Selain itu juga ketika ada anak yang bisa bertahan hidup sampai dewasa maka mereka akan di kucilkan dari lingkungan sendiri bahkan tidak mendapatkan hak warisan, berbeda dengan islam yang selalu memposisikan wanita sangat mulia.
Demikianlah posisi wanita di masa jahiliya tak ada nilai apa-apanya dalam status sosial. Jika saat ini kita bayangkan betapa sadis dan biadabnya zaman jahiliya tersebut pasti tidak akan bisa di gambarkan dengan kata-kata. Demikian lah gambaran interaksi waktu itu.
Ketika Islam agama sebagai rahmatan lil alamin di turunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad sebagai wahyu demi misi kebaikan hadir pada zaman itu terjadi perubahan ke arah yang lebih baik. Kondisi-kondisi yang sebagaimana tergambarkan di atas dimana wanita tidak memiliki nilai apa-apanya mendapatkan posisi yang sangat luar biasanya di mata islam.
Hal tersebut di gambarkan dalam swbuah riwayat ketika ada yang bertanya kepada Nabi siapakah yang harus di hormati setelah Allah dan Rasul-Nya maka di jawab oleh Nabi "ibu, sampai tiga kali sebutan lalu melanjutkan ayah.
Hal ini bisa kita pahami bahwa wanita dalam pandangan islam sangat di hormati lewat riwat tersebut.
Demikian lah kehormatan sebagai seorang wanita yang harus dipahami oleh semua manusia bukan hanya umat muslim saja, terlebih perempuan itu sendiri dan terutama untuk para muslimah. Karena sejatinya mereka harus mampu merawat kehormatan tersebut. Begitu memilukan jika seorang muslimah meruntuhkan kehormatannya sebab perbuatannya sendiri, menggadaiakannya hanya demi kehidupan dunia yang fana ini. oleh sebab itu, dibalik kehormatan luar baisa yang Allah persembahkan ini ada kewajiban dan warning keras untuk senantiasa menjaganya, yang disematkan kepada kaum hawa. Ada aturan main yang harus ditaati agar kehormatan itu tetap abadi dan perempuan selalu dihormati.
Islam adalah agama yang telah sempurna, kehadiran islam memang sebagai penyempurna dari agama-agama pendahulu yang telah menjelaskan secara komprehensif perihal kehidupan manusia mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi termasuk interaksi antara seorang wanita dengan yang bukan mahramnya agar kehormatannya tetap terjaga.
*Interaksi Wanita dengan yang bukan mahram*.
Allah ciptakan kaum laki-laki, berpasangan dengan kaum perempuan, untuk saling melengkapi dalam menunaikan sebuah amanah untuk memakmurkan bumi sesuai syariatNya. Untuk melaksanakan tugas sebagai khalifah tersebut mereka pun akan saling berinteraksi, karena keduanya merupakan bagian yang tak terpisah, mereka pun bukanlah bagian yang asing satu sama lain. Mereka akan sailing berinteraksi dalam pemenuhan kehidupan keseharian, baik dalam lingkup ibadah ataupun dalam lingkup social kemasyarakatan.
Inilah yang akhirnya menjadi dasar alasan mengapa manusia baik laki laki ataupun perempuan disebut sebagai makhluk sosial. Hal ini juga telah Allah jelaskan dalam Q. S AlHujarat ayat 13, yang intinya kita manusia memang diciptkana untuk saling mengenal, saling bergaul, saling tolong menolong guna mencapai tugas kita sebagai hamba dan khalifahNya di muka bumi ini. Semua hal inilah yang mengharuskan perempuan untuk juga berinteraksi dengan laki laki yang bukan muhramnya. Dan untukn tetap menjaga agar interaksi tersebut tidak sampai merusak kehormatan perempuan maka Islam telah mengatur bagaimana seharusnya interaksi antara perempuan dengan laki laki yang bukan mahramnya.
Gambaran bagaimana seharusnya perempuan berinteraksi dengan bukan mahramnya adalah jelas tergambar dalam ayat dan hadits nabi Muhammad saw.
Pertama Menundukkan pandangan
Dari Mata turun ke hati. Sungguh sudah tak asing lagi kalimat ini. betapa berbahayanya pandangan antar alwan jenis, sehingga Allah peringtkan hal ini dalam Q.S An-Nur ayat 30-31. Disini Allah tidak hanya peringatkan laki-laki namun seara khusus di ayat yang terpisah Allah juga peringatkan perempuan untuk menundukkan pandangannya. Hal tersebut menyiratkan bahwa perempuan juga sangat berpotensi terjebak dalam panah panah syetan ini, yang akhirnya dapat menjadi jalan rusaknya kehormatannya.
Kedua Menjaga aurat
Islam telah mengatur bagaimana semestinya perempuan berpakaian untuk menutup auratnya demi menjaga kehormatanya. Secara khusus bagi wanita Allah SWT berfirman, “…dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…” (QS. 24: 31).
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan juga kepada istri-istri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. 33: 59)
Sungguh indah cara Islam menjaga dan menghormati perempuan. Sungguh tidak pantas jika dirusak hanya karena mengikuti fashion yang membuka aurat. Jika terjadi pelecehan sungguh tak bisa salahkan kaum ada toh? Semut akan lebih mudah tertarik dengan peremen yang tidak dibungkus rapi. Oleh sebab itu agar interaksi dengan lawan jenis tetap terjaga hendaknya perempuan senantiasa berusaha menutup auratnya sesempurna yang telah disyariatkan.
Ketiga jangan berkholwat (berdua-duan)
Siapa yang tak tau dengan istilah jika laki laki dan perempuan berduaan maka yang ketiga adalah syetan. Dan ternyata ini adalah sebuah hadis yang tentunya adalah warning keras untuk kita dalam berinteraksi.
“Janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiap yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin.” (HR. Ahmad, sanad hadits ini shahih)
Oleh sebab itulah hendaknya dalam berinteraksi dengan lawan jenis usahakan jangan sampai berduaan saja. Selain akan menjadi sumber fintah juga akan menjadi jalan terbaik syetan menjerumuskan keduanya dalam perbuatan yang mendekati zina hingga mungkin zina itu sendiri. Naudzubillah.
Keepat hindarilah bersentuhan kulit dengan lawan jenis, termasuk berjabatan tangan sebagaimana dicontohkan Nabi saw, “Sesungguhnya aku tidak berjabatan tangan dengan wanita.” (HR. Malik, Tirmizi dan Nasa’i).
Hal tersebut bukan berarti islam adalah agama yang sangat kaku melainkan bagaimana islam menjaga kemuliaan seorang wanita. Di hadits yang lain seorang wanita yang bukan mahram tidak diperbolehkan bersentuhan dengan laki-laki, hal tersebut disamping menimbulkan fitnah akan menyebabkan respons "bioligis" oleh keduanya sebab manusia di ciptakan oleh Allah juga di titipkan dengan akal serta hawa napsu. Dalam kajian biologis bisa ditemukan perihal yang sama sebagaimana yang disampaikan dalam agama jika laki-laki dan perempuan yang bukan sedarah bersentuhan maka secara psikologi akan menimbulkan respons negative.
Jangankan agama, jika kita menggunakan pendekatan budaya indonesia yang ada di bangsa ini bisa kita temukan percikan sejarah budaya yang mana wanita ketika berjalan di tengah-tengah kumpulan lelaki dalam sejarah menjelaskan wanita akan menundukan pandangannya. Bisa di maknai bahwa seorang wanita harus demikian dalam berinteraksi demi menjaga kehormatannya sebab jika kehormatannya telah di nodai maka dalam pandangan masyarakat umum khusunya laki-laki wanita tersebut dipandang dengan cara pandang yang berbeda dan hal yang wajar jika para lelaki kebanyakan dalam mencari pasangan hidupnya pasti utamakan yang masih "perawan". Dalam novel karya buya hamka tenggelamnya kapal vanderwic ada sebuah kalimat yang di keluarkan oleh zainudin kepada hayati bahwa "pangang pisang berbua dua kali pantang pemuda makan sisa". Kata-kata tersebut terucap lantaran hayati ingin kembali namun perna menjadi istri lelaki lain.
Dalam sebuah tulisan yang berjudul "Sebab Mekar mu cuman sekali", tulisan tersebut dilahirkan untuk dikut sertakan dalam perlombaan. Tulisan yang dibuat oleh seorang ayah kepada anak perempuannya yang isinya padat dengan pesan dalam rangka menjaga interaksi dengan lawan jenisnya yang bukan mahram agar bagaimana tetap eksis sebagai wanita namun tidak merugikan diri sendiri sebagaimana yang terjadi di zaman (now) sekarang.
*interaksi IMMawati di zaman (Now) sekarang*
Di zaman yang telah terhegemoni dengan budaya barat telah memberikan gambaran yang sangat jelas bagaimana wanita dalam berintekasi dengan lelaki yang bukan mahram. Bagaimana batasan dan cara berinteraksi yang telah di atur di abaikan, interaksi tanpa aturan hingga kebablasan. Akibatnya, perempuan menjadi rendah dan hancur kehormatannya oleh sebab perbuatannya sendiri.
Maka, IMMawati sebagai wanita harus lebih ekstra hati-hati dalam berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahramnya agar kehormatannya tidak ternodai karena, jika telab ternodai maka di ibaratkan seperti buah nilainya tidak terlalu tinggi sebab isi dari buah tersebut telah rusak.
Zaman (Now) sekarang ini, harus lebih ekstra hati-hati sebab di jaman dengan serba berkemajuan dalam sisi IPTEK membuat semakin mudah dan tidak ada sekat yang membatasi dalam interaksi (komunikasi) dalam terutama di dunia maya. Banyak peristiwa yang telah terjadi berawal dari komunikasi sampai berlarut-larut dengan pria yang tidak mahram dan yang baru di kenal tidak menutup kemungkinan terjadi yang namanya (cyber sex) kekerasan dunia maya. Berawal dari interaksi, janjian lalu menjalin hubungan yang tidak seharusnya.
Oleh sebab itu, yang harus diwaspadai di zaman now ini adalah interaksi yang ada digenggaman kita (handphone). Bagaimana menundukan pandangan, menjaga aurat, tidak berduaan dan tidak bersentuhan lewat interaksi yang ada hanya ada dilayar HP namun dampaknya yang akan menjadi luar baisa.
Ingat Q.S Al-Isra ayat 32. “dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” mendekatinya saja sudah dilarang keras. Itu artinya banyak sekali didunia ini perbuatan yang akan menghantarkan pada zina dan zina itu banyak jenisnya. Karenanya jangan sampai kecanggihan teknologi di zaman now merusak etika dalam berinteraksi dengan lawan jenis yang tergolonga perbuatan mendekati zina.
Jangan sampai immawati tidak mampu menjaga interaksinya hingga kebablasandengan lawan jenis wabil khusus IMMawan (karena sudah tentu interaksinya lebih sering dengan para immawan to0oooh). Berinteraksilah sesuai aturannya karena islam suda mengatur bagaimana cara berkomunikasi dan komunikasi dalam islam sangat lah penting sebab saling bersilaturahim namun ada batasan-batasan yang namanya (etika) seperti yang sudah dijelaskan di ata
Jagalah kehormatan, ikuti aturan, tetaplah menjadi melati merah marun sekalipun hidup di zaman now.
*Penutup*
interaksi antara sesama manusia termasuk laki-laki yang bukan muhrim telah di atur dengan jelas. wanita adalah makhluk lemah dan wanita juga adalah mulia dalam pandangan islam maka jaga laj kemuliaan sebagai seorang wanita sehingga mahkotanya tidak di ambil oleh orang yang bukan siapa-siapa dan di waktu yang tidak tepat hakni karena sebuah ikatan pernikahan.
Karena mahkota itu sangat berharga dan menjadi sebuah kebanggaan bagi orang tua dan terlebih kebanggaan bagi seorang suami.
Sebagai sesama muslim terlebih dilahirkan dari rahim yang sama hakni IMM maka suda sepatutnya kita saling mengingagkan dalam kebaikan dan kesabaran.
Tulisan ini disampaikan pada kajian IMMawati UMB (Kamis, 30 Nopember 2018)
Semoga bermanfaat.
Billahi fi sabilil haq fastabiqul khaerat.