Jumat, 24 Maret 2017

Membangun Masyarakat Ilmu dalam Bingkai Tri Kompetensi Kader IMM



Oleh: Ali Sutimin Pratama, Agustian, Marsono, Sardianti Tawulo*

(Panitia Pengarah DAM Angkatan XXV PC IMM Kota Kendari)








Menyerukan manusia untuk berkehendak bebas seperti perilaku hidup dengan menghilangkan sebuah tuntunan (wisdom) tertentu, katakanlah agama, sudah sulit lagi dipertahankan atau mendapat tempat di alam pikiran manusia. Betapa manusia mengorbankan seluruh hayatnya untuk menelusuri arti subuah kehidupan sedang dijalani ini sebagimana para ahli pikir. Ada yang sampai pada tahap keyakinan bahwa mengakui satu-satunya yang abadi adalah materi di alam ini. Sedangkan pada sisi yang lain menyatakan dengan kukuh yang benar-benar nyata dalam dunia ini adalah pikiran, jiwa. 


Sampai detik ini pandangan itu terus menulusuri jalan masing-masing mempengaruhi alam pikiran manusia. Sejatinya berkehendak bebas tidak ada, melainkan bebas memilih. Kalaupun berkata menghilangkan tuntunan dalam kehidupanya adalah mustahil sebab faktanya tetap menjalankan suatu paham tertentu. 


Karena itu, ilmu sekarang ini berkembang dengan menggunakan landasan berpikir ilmiah lahir sebagi usaha menyatukan perbedaan kedua pandangan yang berseberangan itu. Nah, paham yang menentang ini adalah para ahli pikir berlandaskan agama. Akibatnya kita manusia yang hidup sekarang ini mengenalnya dengan tiga tuntunan yakni, Wahyu, Filsafat dengan Ilmu pengetahuan. Islam memandang bahwa satu-satunya sebab di alam semesta ini adalah Allah SWT.


Berkaitan dengan mencari ilmu, kaum muslimin wajib memanfaatkan dengan sekuat tenaga. Ilmu menjadi landasan keimanan dan amal. Banyak orang terpedaya dengan sehat dan kelonggaran, sehingga tidak dapat memanfaatkan waktu itu dengan baik. Rasulullah saw bersabda.


“Dua kenikmatan yang manusia banyak tertipu, yaitu nikmat kesehatan dan nikmat waktu lapang.” (HR. Bukhari)


Padahal, kedudukan ilmu sangatlah sentral dalam Islam, sehingga Allah memerintahkan agar aktifitas mencari ilmu itu tidak boleh berhenti, walaupun dalam kondisi perang sekalipun. Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi tradisi ilmu dan sangat menghargai ilmu. 


Suatu saat Sayydina Ali didatangi beberapa orang dan menanyakan manakah yang lebih mulia ilmu dan harta. Ali r.a. menjawab: lebih mulia ilmu. Ilmu menjagamu, harta kamu harus menjaganya. Ilmu bila kamu berikan bertambah, harta berkurang. Ilmu warisan para nabi, harta warisan Fir’aun dan Qarun. Ilmu menjadikan kamu bersatu harta bisa membuat kamu pecah belah dan seterusnya. 


Dapat dipahami berangkat dari kepandaiannya, Ali berkomentar terkait derajat benda dan Ilmu. Selain itu dari Ilmu, tidak ada satu peradaban yang bangkit tanpa didahului dengan bangkitnya tradisi ilmu. Rasulullah saw telah memberikan teladan luar biasa pada konteks ini. Di tengah masyarakat jahiliah gurun pasir, Rasulullah berhasil mewujudkan sebuah masyarakat yaang sangat tinggi tradisi ilmunya. Tradisi baca dan tulis-menulis begitu hidup dalam masyarakat masa itu yang sebelumnya didominasi tradisi lisan. Bahkan tradisi membaca dan menulis ini menjadi simbol kemuliaan seseorang.


Bedasarkan uraian di atas, dapat kita mengerti posisi seorang muslim dan juga manusia pada umumnya soal menjalani hidup ini dengan seluruh perkara berhubungan langsung dengannya. Antara sesama manusia, diri sendiri dan kepada Tuhan Allah SwT, penguasa jagat raya dan seisinya. Semestinya dapat membantu kita menyelasaikan dengan Ilmu.


Masih belum selesai sesungguhnya, ilmu (pengetahuan) yang sekarang ini kita kenal ada ilmu yang masih terbagi yakni, ilmu alam dan sosial juga dikotomi ilmu dunia dan akhirat. Atau dapatkah kita menjawab dari manakah sumber ilmu pengetahuan yan kita gunakan sekarang ini. 


Jika mau jujur dalam bidang sosial harus berani dilakukan perbaikan, sehingga menjadi benar adanya ilmu sesuai tujuan keberadaannya yakni dapat menghantarkan kepada kebahagiaan di dunia dan hari selamat dihari kemudian kelak. Lihat saja berbagai produk-produk yang dihasilkan seperti perkara sosial tentang struktur masyarakat yang memelihara kesenjangan sosial seperti memancing konflik karena perbuatan menindas, kuat kepada kaum lemah, mayoritas menghardik minoritas, kebudayaan dengan perilaku dengan bebas nilai seperti narkoba, pergaulan bebas (free sex), ini yang paling perih manusia dijadikan sebagian obyek. 


Bayangkan saja, derajat wanita dijadikan komoditas untuk meraup kepentingan bendawi, ekonomi yang tidak berkeadilan, pendidikan yang menjauhkan dari sentuhan akal sehat dan agama, muaranya karena salah memandang dunia dan kehidupan ini dari hakikatnya. Matrealistik-sekuler. Tolok ukur kebenaran hanya dapat diukur kala mendapatkan manfaat indrawi. Sungguh ini adalah nestapa, terus terang saja derita melanda tiada henti akan dijumpai karena diringkus fitrah kemanusiaan sehingga ajaran yang benar akan hadir menyelesaikan, Islam. Ujian akhir zaman!!


Komentar Kuntowijoyo perlu dikemukakan di sini, dia perpendapat bahwa ilmu-ilmu sekuler adalah produk bersama seluruh manusia, sedangkan ilmu integralistik adalah bersama seluruh manusia beriman. Karenanya, kami semua adalah produk partisipan dan konsumen ilmu-ilmu sekuler. Karena berangkat dari ilmu sekuler dimana tempat kita lahir yang sepanjang perjalanan tetap mendapat persimpangan, jalan buntu, sudah mengabaikan nilai-nilai kemuliaan bahkan fitrah manusia itu sendiri sehingga alam pun ikut tercemari. Prinsipnya adalah Ilmu (termasuk ilmu agama Islam) diperuntukkan untuk kepentingan manusia dan alam (Kuntowijoyo,Islam Sebagi Ilmu, 2006)


Kini saatnya Islam hadir kembali menolong semua krisis kemanusiaan dan lingkungan di atas dunia ini. Sungguh Islam hadir bukan untuk islam atau agama itu sendiri, juga bukan kepada kepentingan suku melainkan kepentingan untuk memudahkan seluruh hajat manusia (Amirullah, IMM Untuk Kemanusiaan,2016:79-80). Tantangannya untuk kedalam ummat muslim bagaimanakah memulainya dengan kayakinannya yang kokoh. Kita sudah memiliki teladan dalam sejarah pada perjalanan umat manusia dimaktub dalam Al-Qur’an, Allah SwT memberikan kapada sosok manusia seperti kita, dia karena keteladan diangkat sebagi nabi dan ada juga sekaligus diangkat menjadi rasul. Utamanya meneladani Muhammad bin Abdillah saw dari paradigma, mempengaruhi, mempropaganda, menguasai.


Dalam trikompetensi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sesungguhnya memiliki mutiara paradigma amat kokoh. IMM sejak pendiriannya tercatat sudah bergelut dengan hirup pikuk kehidupan bermahasiswa, berbangsa, masalah umat Islam dan Muhammadiyah itu sendiri di Indonesia saat itu (Farod Fathoni AF, Kelahiran yang dipersoalkan,1990). 


Sebagai bagian dari pemuda dan mahasiswa muslim tak boleh mengenal jenuh sebab masih bebas sejarah kamanusiaan dengan amanah menjalankan khalifah untuk menjamin perdamain dan memakmurkan alam dan manusia. Kendatipun tri komptensi kader menjadi semangat bergerak namun fakta masih saja anggota IMM yang belum mengerti atau mengetahui hanya sekadarnya saja. Karena itu, trikompetensi kader tidak boleh sunyi dari gerakan keilmuan sebab hal itu bukan diterima secara dogmatis sehingga bergerak dengan mental bebal. Spiritualitas, Intelektualias, dan Humanitas sejatinya penjewatahan dari pokok ajaran Islam untuk muslim.


Nah, tradisi majelis ilmu di Darul Arqom Madya IMM diikuti oleh kader Immawan dan Immawati melalui gerak tertib berorganisasi selain amanah organisasi dapat berarti kesadaran membangun proses pendidikan. Hanya mengharap ridho Allah SWT., belaka, Terus beriktiar yang nantinya keluar dari forum tersebut mampu menjawab ikhwal alam dan manusia berdasarkan cita-citanya, Baldatun Toiyyibatun Wa Robbun Ghofur. Amin.



------------


  1. Ali Sutimin Pratama: Sekretaris Korps Instruktur Cabang IMM Kota Kendari Periode 2016-2017
  2. Agustian: Ketua Bidang Tablig dan Kajian Keislaman PC IMM Kota Kendari Periode 2016-2017
  3. Marsono: Pengurus Bidang Monitoring dan Evaluasi Korps Instruktur Cabang IMM Kota Kendari Periode 2016-2017
  4. Sardianti Tawulo: Ketua Bidang Immawati PC IMM Kota Kendari Periode 2016-2017







Tidak ada komentar:

Posting Komentar